August 18, 2014

Tertekan Suami Kasar, Akui Suami-Isteri Keras Kepala

Jakarta - Saya baru menikah September 2012 lalu. Setelah menikah suami sering melontarkan kata-kata kasar. Ia enggan meninggalkan kebebasannya berkumpul dengan teman-temannya dan mengabaikan saya.

Sampai saat ini dia masih belum punya perkerjaan tetap. Sifat kami berdua sama-sama keras kepala. Awal tahun 2013 terjadi pertengkaran hebat hanya gara-gara masalah sepele, dia keluar dari rumah dan mengancam akan menceraikan saya.

Gambar tiada kena-mengena

Sekarang kami hidup terpisah, dia numpang di kos temannya, saya di rumah orangtua. Sudah sering saya ajak pulang tetapi dia selalu menolak dan bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah orangtua saya.

Diajak kontrak pun menolak dengan berbagai alasan, tapi dia masih mau menemui saya untuk sesekali bertemu. Salah satu sifat buruknya adalah lama memaafkan, saya pernah didiamkan sampai tiga bulan lamanya. Meminta bantuan orangtuanya pun gagal, dia justru kabur dan berkata kasar pada orangtuanya. Sebelum menikah, kami berdua sempat putus, bahkan saya berencana menikah dengan orang lain.

Tapi pada saat dia mau melamar pacarnya, dia ragu-ragu, dia terus teringat saya dan akhirnya dia memaksa saya untuk kembali dan menikah dengannya. Sudah saya tolak berpuluh kalipun dia terus memaksa saya, sampai akhirnya sayapun luluh karena memang saya masih mencintainya. Sekarang setelah menikah, perlakuannya amat berbeda, saya benar-benar bingung akan sikapnya. Jujur saya masih mau bertahan, tapi saya bingung.

Apa yang harus saya lakukan sekarang? Sudah sering saya ajak diskusi, tapi dia selalu malas-malasan, ujungnya tidak pernah ada solusi. Apakah kami masih bisa rujuk dan sifatnya kembali normal? Karena dia sebelumnya tidak pernah kasar pada siapapun. Terima kasih atas jawabannya.

Devi, 30 Tahun

Sebenarnya saya agak bingung dengan isi surat kamu, saya berharap kamu bisa lebih menggambarkan lagi sifat kamu dan suami yang keras kepala itu seperti apa. Kamu juga bilang bahwa sebelumnya dia tidak pernah kasar kepada siapapun, lalu menurut kamu adakah hal-hal yang menjadi pemicu dia bersikap kasar?

Saya tidak bermaksud menyudutkan atau menambah beban kamu, namun ada baiknya kamu melakukan instrospeksi diri adakah sikap kamu yang kurang berkenan untuknya.

Jika kamu merasa kamu keras kepala, mungkin ada baiknya kamu bersikap lebih lembut dan mengalah dengannya. Jika dia berani menentang keluarganya, besar kemungkinan sumber masalah ada di dalam keluarganya sendiri. Jika memang benar demikian, tentu dia membutuhkan seorang istri yang dapat diajaknya berdiskusi, mendengar, dan memahami dia.

Tentu saja itu hanya dugaan karena yang tahu sumber masalah sebenarnya adalah suami kamu. Kamu sudah berusaha berdiskusi dengannya namun tidak berhasil. Sekarang, cobalah kamu ajak suami kamu untuk melakukan konseling dengan konselor atau psikolog.

Temani dan dampingi dia setiap kali melakukan kunjungan. Saya yakin dia dapat kembali “normal” seperti yang kamu inginkan, terlebih jika ada dukungan dan semangat dari keluarga yang mencintainya. - wolipop.detik.com

No comments: